Membentuk karakter intelektual dalam bingkai literasi
Membentuk karakter intelektual dalam bingkai litarasi
Dilihat dari historisnya kemajuan suatu negara yang maju tidak hanya dibangun dengan sumber alam yang melimpah semata. Atau manajemen pengelolaan yang baik. Melainkan sebuah tulisan dan budaya membaca menjadi pondasi awal dari setiap kemajuan suatu negara.
“Aku rela dipenjara asalkan bersama buku, karena dengan buku aku bebas.” Kutipan dari Bung Hatta ini memberi ilham bahwa buku memiliki peran penting dalam menentukan masa depan seseorang, masa depan keluarga, bahkan masa depan sebuah bangsa.
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.” Pramoedya Ananta Toer lewat kutipannya juga menegaskan bahwa menulis membuat seseorang menjadi tinggi martabatnya, tinggi derajatnya, juga menjadikan bangsa ini semakin kaya peradabannya.
Membentuk karakter dalam bingkai literasi adalah usaha mencapai keparipurnaan seorang mahasiswa atau para peserta didik
Karena dalam bingkai literasi ada pokok yang harus dikonsumsi . Bukan hanya tentang masuk kelas lalu pulang kerumah lalu begitu seterusnya ,padahal asupan ilmu bisa di dapat dari membaca atau dsri lingkar diskusi yang di buat oleh kawan kawan mahasiswa, formula Mengenalkan buku sejak dini dengan cara yang bijaksana dapat menuntun menjadi seorang pemikir yang kritis.
Pendidikan literasi semacam ini harus diupayakan dengan serius oleh pegiat pendidikan untuk menumbuhkan keintelektualan dan kebijaksanaan dalam berilmu
Biasa membaca dan biasa menulis dalam pendidikan literasi di lingkup kampus, membuat mahasiswa memiliki tujuan hidup yang lebih sistematis dan bermanfaat. Minimalnya mahasiswa akan terhindar dari pergaulan bebas yang menyesatkan, berpikir pendek hanya karena perbedaan, bahkan menjauhkan dari tindakan-tindakan intoleran.
Kemampuan literasi yang baik, menurut saya, dapat memberdayakan dan meningkatkan kualitas individu, keluarga, masyarakat, bangsa, serta umat manusia. "Jika Islam hendak meraih kejayaannya maka suka tidak suka, kita harus memperkuat kemampuan literasi setiap individu
Sayangnya Indonesia saat ini krisis membaca. Sebab, dari 1.000 orang Indonesia, hanya satu orang yang rutin membaca buku. Tak heran berdasarkan data Programme for International Student Assessment (PISA), Indonesia berada di peringkat 64 dari 72 negara yang rutin membaca. Bahkan, menurut The World Most Literate Nation Study, Indonesia berada di peringkat 60 dari 61 negara.
Mari kita tingkatkan budaya literasi guna terbinanya insan akademis pencipta,pengabdi yang bernafaskan islam dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang di ridhoi Allah subhanahu wata'ala.
Di tulis oleh Habibburrohman ketua umum HMI komisariat Tarbiyah UIN SMH Banten
Komentar
Posting Komentar